Facebook Twitter Google RSS

Kamis, 29 Januari 2009

Pembaruan Gereja, Upaya Menghadirkan Injil dalam Konteks yang terus Berubah*

ADMIN    17.58  No comments

Injil yang menjadi isi dan spirit gereja di tengah perjalanannya bersama masyarakat dunia adalah nilai yang tak pernah berubah. Yang berubah adalah cara gereja memaknai Injil yang mutlak itu dalam proses sejarah manusia. Yesus yang memproklamirkan Injil, yang nilai dan spiritnya adalah pembebasan, penerimaan, keadilan dan perdamaian, telah sejak dari awal memang memaksudkan bahwa Injil itu dapat mengatasi ruang dan waktu. Injil kemudian tidak hanya relevan – meski pertama dia hadir dalam suatu konteks kebudayaan – dalam satu ruang dan waktu saja.

Gereja pun melakukan itu, meski memang tidak segampang yang dibayangkan. Bahwa dalam perjalanan sejarahnya, pada masa-masa tertentu gereja (secara institusi) telah menjebakkan diri dalam kekuasaan elit yang membuat dia hampir kehilangan spirit pembebasan. Barangkali soal ini misalnya bisa kita runut mulai sejak gereja dijadikan sebagai agama negara oleh Kaisar Konstantinus di sekitaran tahun 300-an. Sampai di jelang abad pertengahan, gereja menjadi dominan dalam urusan benar-salah, politik dan kehidupan sosial peradaban Eropa khususya. Masa ini adalah masa ”kegelapan”, yaitu suatu kondisi di mana manusia harus takluk secara penuh kepada dogma yang dibuat oleh gereja, sehingga kemudian membatasi haknya untuk mengekspresikan kemampuan rasio.

Agustina Jowangkay dalam artikelnya berjudul Reformasi Gereja Dalam Sejarah: Sebuah refleksi teologis, dalam Inspitator edisi Oktober-Desember 2008, mengulas beberapa faktor lahirnya pembaruan pemikiran dalam gereja. Kata Jowangkay, gerakan untuk mengadakan pembaharuan dalam kekristenan Barat telah dimulai sejak abad ke-14 hingga abad ke-17. Usaha-usaha untuk mengadakan reformasi timbul dikalangan gereja sendiri. ”Yang diperjuangkan adalah para rohaniawan berhenti memikirkan status dan uang saja, dan kembali kepada kehidupan yang terarah kepada Allah. Perjuangan ini disertai dengan kritik terhadap hirarki gereja (para pemimpin) dan seringkali dengan menonjolkan peranan kaum awam. Ini antara lain dapat dilihat dalam gerakan Devotio Moderna (=Kasalehan modern) pada abad ke-14,” tulisnya.

Usaha-usaha mereformasi gereja antara lain menurut Jowangkay, dimulai dengan pembaharuan kebudayaan, yang disebut Renaissance (kelahiran kembali, maksudnya kelahiran kembali kebudayaan, khususnya kebudayaan Yunani dan Romawi). Pembaharuan ini, yang berlangsung dari abad ke-14 sampai abad ke-16, mulai di Itali dan dari sana disebarkan ke Perancis, Spanyol, Inggris dan Jerman. Tujuannya adalah untuk menggali sumber-sumber gereja yang ada di gereja kuno, dan lebih luas untuk kembali kepada sumber kebudayaan Kristen yang ada di kebudayaan Yunani dan Romawi.

Renaissance telah memberi sumbangan yang besar bagi lahirnya Reformasi Luther pada tahun 1517. Martin Luther menegaskan usaha pembaruan itu antara lain dengan mencantumkan 95 dalil di pintu Gereja Kastil di Wittenberg, Jerman, 31 Oktober 1517. Reformasi Luthter ini adalah kritik terhadap kekakuan dan kehilangan orientasi gereja. Reformasi ini kemudian melahirkan perubahan yang radikal dalam gereja sendiri. Perubahan itu tidak terutama hanya munculnya Kristen Protestan, tapi dengan adanya kritik ini kemudian menyadarkan gereja atas hakikat kehadirannya di tengah dunia ini.

Selanjutnya, jejak-jejak pembaruan gereja dapat kita juga telusuri pada tema-tema sidang Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (DGD) yang mulai bersidang tahun 1948 di Amsterdam dan terakhir tahun 2006 di Porto Alegre Brasil. Perubahan-perubahan tata politik, sosial dan ekonomi dunia sepanjang sejarah dunia, pada banyak hal telah meransang gereja untuk mendiskusikan dan merumuskan sikap-sikap teologisnya. Mau tak mau, rumusan-rumusan teologis gereja pada akhirnya harus berdialektika dengan perubahan sejarah dunia yang terus terjadi. Dalam konteks Indonesia, pergumulan gereja antara lain didiskusikan secara mendalam oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), yang sebelumnya bernama Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI).

David J. Bosch dalam bukunya, Tranformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah (Jakarta: BPK, 1999) secara mendalam mengulas tentang sejarah perubahan paradigma misi gereja. Perubahan pergumulan dunia, seperti yang menjadi tesis Bosch dalam bukunya itu, ternyata ikut mempengaruhi gereja dalam merumuskan paradigma misinya. Ini juga menunjukkan kepada kita bahwa gereja ternyata hadir bersama-sama dalam perubahan itu, dan dia selain terus membarui diri, tapi yang terutama adalah visi pembaruan gerakan dan pemikiran keagamaan manusia (dalam hal ini kekristenan).

”Kehidupan hari ini berbeda dari hari kemarin dan sudah pasti akan berbeda dengan hari esok. Namun yang pasti, kejadian hari ini adalah sebab kejadian kemarin. Demikian juga hari esok merupakan akibat hari ini. Itulah proses hidup. Dengan demikian perubahan merupakan konsekuensi absolut dari sebuah proses, sementara proses adalah tahap-tahap perubahan itu sendiri,” demikian ungkap Riane Elean lewat artikelnya berjudul Bahtera Nuh Itu Kandas Di Parlemen: Beberapa Hal Seputar Perubahan Sosial, dalam Inspirator terbitan Oktober-Desember 2008.

Kalimat ini ingin menegaskan kepada kita, betapa perubahan itu adalah sesuatu yang mutlak. Namun, perubahan yang mutlak dalam hampir semua dimensi kehidupan manusia mestinya dituntun oleh satu spirit dan sistem nilai yang absolut juga, yang dalam konteks gereja tentu kita menunjuk itu pada Injil itu sendiri.

Makanya, dalam sejarah kehadiran gereja di tengah arus perubahan itu, model berteologi yang kemudian menjadi alternatif adalah teologi kontekstual. Terutama gereja-gereja di masyarakat Dunia Ketiga rumusan teologis yang tanggap dengan situasi konteks atau teologi kontekstual menjadi pilihan dalam usaha menghadirkan Injil di tengah pergumulan masyarakatnya. ”...teologi kontekstual merupakan sebuah kebutuhan sebab sudah selayaknya Firman Allah dapat dipahami oleh orang percaya sepanjangan zaman menurut konteksnya,” tulis Vera Solung-Loupatty dalam artikelnya berjudul Teologi Kontekstual, Sebuah Kebutuhan, yang dimuat dalam Inspirator edisi Oktober-Desember 2008.

Pembaruan berteologi gereja adalah juga bentuk pembaruan pemikiran dan gerakan gereja dalam memaknai kehadirannya di tengah dunia. Pembaruan tidak sama dengan relativisme. Pembaruan tidak sama dengan penaklukan nilai ortodoksi gereja. Tapi, pembaruan lebih menunjuk pada modernisasi (dari kata Latin, moderna yang berarti ’baru’, ’terkini’ dan ’sekarang’) pemaknaai nilai Injil yang tampak dalam pembaruan cara merespon dan menanggap situasi dan kondisi konteks yang di dalamnya manusia berinteraksi mencari makna hidup. Sebuah pembaruan di dalamnya berisi kritik dan kemajuan. Makanya, gereja dituntut untuk menjadi terdepan dalam sebuah modernisasi. Gereja tidak boleh ketinggalan, dia harus memimpin perubahan itu. (tim Redaksi Majalah Inspirator)

* tulisan ini pernah dimuat pada majalah Inspirator edisi Oktober-Desember 2008

0 komentar :

Labels

Recent news

About Us

Fakultas Teologi UKIT (Jln. Raya Tomohon Kakaskasen) Telp. (0431) 351081, Fax (0431) 351585